Riba akhir – akhir ini menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat terutama umat Islam. Umat Islam di Indonesia mulai menyadari betapa Allah SWT telah memberikan peringatan yang keras kepada orang yang menjalankan praktek riba.

Keharaman riba sebenarnya bukan baru sekarang saja dalam Syariah Islam. Sejak zaman Rosulullah Muhammad SAW sudah terdapat larangan menjalankan praktek riba ini. Namun karena bukan menjadi konsentrasi para ulama atau dai maka umat Islam secara umum belum mengetahui dan memahami larangan riba ini.

Secara terang benderang dalam Al Qur’an terdapat larangan riba, hal ini bisa dibaca pada QS Al Baqarah : 275 yang terjemahannya kurang lebih begini :

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… (Al Baqarah : 275)

Jelas sekali Allah dalam mengharamkan riba pada ayat ini. Selanjutnya dalam ayat ke 278 masih dalam surat Al Baqarah, Allah memerintahkan umat Islam untuk meninggalkan sisa riba.

Sebuah penegasan untuk benar – benar meninggalkan praktek riba. Secara jelas hal ini dapat dibaca pada terjemahan ayat dibawah ini :

“Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang – orang yang beriman”. (Al Baqarah : 278).

Dan jika pelaku riba yang membandel tidak mau meninggalkan riba dan sisa riba yang ada, Allah SWT mengancam akan memerangi orang – orang tersebut supaya meninggalkan riba.

Silahkan disimak terjemahan Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 279, Allah berfirman :

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RosulNYA akan memerangimu”. (Al Baqarah : 279.

Didunia saja ancaman pelaku riba ini sampai ditulis dalam Al Quran akan diperangi oleh Allah dan Rasulullah, menandakan betapa beratnya dosa dan akibat dari praktek riba yang merajalela. Dan nanti di akhirat Allah mengancam akan memasukan pelakunya ke dalam neraka dan kekal di dalamnya. Hal ini sesuai dengan kutipan lengkap Al Baqarah : 275 :

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang teah sampai padanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka mereka kekal didalamnya”. (Al Baqarah : 275).

Betapa bahayanya praktek riba yang sudah dianggap hal yang biasa oleh masyarakat saat ini. Bahaya riba tidak hanya berakibat pada diri pribadi pelakunya saja, namun berdampak pula kepada personal, masyarakat, dan negara, bahkan berdampak kepada umat Islam atau umat manusia secara keseluruhan.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW melaknat para pelakunya, sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir RA “

“Rasulullah SAW mengutuk orang yang makan harta riba, yang memberikan riba, penulis transaksi riba, dan kedua saksi transaksi riba. Mereka semuanya sama (berdosa)”. (HR. Muslim)

Menurut hadits diatas ada empat pihak yang akan terkena dosa akibat sati transaksi riba, yaitu peminjam, pemberi pinjaman, penulis transaksi, dan saksi-saksi transaksi. Satu transaksi tetapi dampak dosanya begitu merata kepada empat golongan.

Setelah mengetahui dahsyatnya dosa riba dan efek yang ditimbulkan, sudah saatnya masyarakat khususnya umat Islam untuk berhenti dan meninggalkan jauh – jauh segala bentuk transaksi ribawi. Hijrah ke transaksi – transaksi (muamalah) yang tidak bersentuhan dengan unsur riba dari awal sampai akhir akan mendatangkan kemaslahatan diri, keluarga, masyarakat, dan negara.